duō suǒ多所zhōng guó中国dà xué大学jiào tíng叫停fù rì赴日jiāo huàn交换liú xué留学
Belakangan ini, pertukaran universitas antara Tiongkok dan Jepang menghadapi kesulitan baru.
Menurut laporan media, dari 27 universitas unggulan Tiongkok yang diwawancarai, 21 di antaranya sudah menghentikan pengiriman mahasiswa pertukaran ke Jepang, dan hanya 6 universitas yang masih menjalankannya sesuai rencana.
Alasan utama perubahan ini berkaitan dengan ketegangan hubungan Tiongkok-Jepang.
Pada November 2025, Kementerian Pendidikan Tiongkok mengeluarkan “peringatan studi ke luar negeri” dan menyarankan mahasiswa untuk merencanakan studi ke Jepang dengan hati-hati.
Karena hal ini, banyak universitas, termasuk Universitas Fudan, membatalkan rencana pengiriman untuk tahun 2026.
Perubahan ini bersifat dua arah: bukan hanya mahasiswa Tiongkok yang tidak bisa pergi ke Jepang, tetapi mahasiswa Jepang yang semula berencana belajar di Tiongkok juga menerima pemberitahuan dari sekolah-sekolah Tiongkok bahwa mereka akan “berhenti menerima” mereka.
Berita ini membuat banyak mahasiswa merasa sedih dan tidak berdaya.
Seorang mahasiswa tahun ketiga mengatakan bahwa ia sudah belajar bahasa Jepang sejak SMA dan awalnya berencana pergi ke Jepang untuk pertukaran selama satu tahun pada bulan April, tetapi sekolahnya tiba-tiba memberi tahu bahwa program itu dibatalkan karena “negara tidak mengizinkan”.
Ia merasa hal itu mengubah rencana hidupnya dan sangat kecewa.
Namun, ada juga mahasiswa yang mengatakan bahwa meskipun program resmi sekolah sudah berhenti, mereka tetap berharap suatu hari nanti bisa pergi ke Jepang untuk melanjutkan studi melalui pendaftaran pribadi.
Para ahli menilai bahwa situasi ini mungkin merupakan keputusan yang diambil sendiri oleh universitas setelah mengamati sikap pemerintah.
Walaupun program pertukaran resmi antar sekolah berkurang, mahasiswa yang mendaftar secara pribadi untuk belajar di Jepang atau masuk sekolah bahasa sejauh ini belum terlalu terdampak.
Pertukaran pendidikan adalah jembatan penting bagi generasi muda kedua negara untuk saling memahami.
Penghentian program studi ke luar negeri ini tidak hanya memengaruhi masa depan mahasiswa, tetapi juga menimbulkan tantangan bagi pertukaran masyarakat antara kedua negara.
Semua orang memperhatikan apakah situasi tegang ini akan membaik di masa depan.