liù zhǒng六种jiǎo dù角度kàn看rì běn日本shǒu xiàng首相gāo shì zǎo miáo高市早苗de的wài jiāo zhèng cè外交政策
Sanae Takaichi sering disebut sebagai seorang konservatif yang bersikap keras terhadap Tiongkok, tetapi pandangan tentang kebijakan luar negerinya berbeda-beda di setiap kawasan.
Amerika Serikat memperhatikan apakah Jepang dapat menjadi sekutu yang andal sambil tetap mempertahankan penilaiannya sendiri; Eropa berfokus pada apakah Jepang masih akan berpegang pada jalur perdamaian pascaperang setelah memperkuat militernya; Australia menilai penting kerja sama dengan Jepang di bidang pertahanan, energi, dan keamanan ekonomi.
Meskipun Korea Selatan dan Jepang masih memiliki perselisihan sejarah, keduanya juga menjalin kerja sama praktis mengenai energi, rantai pasokan, dan Korea Utara.
Tiongkok berpendapat bahwa pernyataan Sanae Takaichi mengenai isu Taiwan dan penguatan militer Jepang telah merusak landasan politik hubungan kedua negara.
Sebagian besar negara Asia Tenggara memercayai Jepang, tetapi tidak ingin kawasan tersebut terpecah menjadi blok-blok yang saling berhadapan.
Secara keseluruhan, Jepang masih menempatkan aliansinya dengan Amerika Serikat sebagai pusat, sambil memperkuat hubungan dengan Korea Selatan, Australia, dan Asia Tenggara untuk memperluas pilihan diplomatiknya.
Namun, masih sulit untuk memastikan apakah Jepang benar-benar dapat memperoleh ruang yang lebih mandiri dalam diplomasi.