bā lè sī tǎn巴勒斯坦yǐ已huó活zài在dà xíng大型kē jì科技gōng sī公司de的wēi quán zhǔ yì威权主义xià下,ér而zhè zhǒng这种mó shì模式zhèng正bèi被mài卖gěi给quán shì jiè全世界
Bagi warga Palestina, kendali yang dibawa oleh teknologi bukanlah cerita tentang masa depan, melainkan kehidupan sehari-hari.
Israel telah lama menggunakan pengawasan, pengenalan wajah, data telepon, dan pemblokiran internet untuk mengendalikan warga Palestina.
Di Gaza, kecerdasan buatan juga membantu militer menemukan sasaran serangan, sehingga serangan menjadi lebih cepat dan lebih banyak, sekaligus membuat tanggung jawab manusia semakin sulit terlihat.
Platform media sosial membatasi suara warga Palestina, dan beberapa foto, video, serta catatan sejarah penting juga dapat dihapus.
Saat ini, banyak orang menggunakan kecerdasan buatan untuk mengetahui berita, tetapi informasi yang salah dapat memengaruhi jawabannya.
Israel juga mengeluarkan uang untuk membuat banyak konten daring, dengan harapan mengubah cara chatbot berbicara tentang Gaza.
Yang lebih berbahaya, teknologi yang pernah digunakan di Palestina dikemas sebagai “produk keamanan” lalu dijual ke negara-negara lain.
Inggris dan Amerika Serikat juga mulai menggunakan teknologi dari perusahaan-perusahaan terkait untuk mengelola informasi medis, mengawasi imigran, dan orang-orang yang mendukung Palestina.
Pengalaman Palestina mengingatkan dunia bahwa ketika pemerintah dan perusahaan besar bersama-sama menguasai data, pengawasan, dan kecerdasan buatan, kebebasan, ingatan, dan sejarah manusia semuanya dapat terancam.