zhōng guó中国jīng jì经济huì bú huì会不会xiàng像guò qù过去de的rì běn日本?
Menurut data resmi Tiongkok, ekonomi tumbuh 4,6% pada tiga kuartal pertama tahun 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Namun, beberapa pakar berpendapat bahwa masalah yang dihadapi Tiongkok saat ini mirip dengan masalah Jepang pada tahun 1990-an: harga rumah turun, jumlah penduduk berkurang, masyarakat enggan berbelanja, dan perusahaan juga tidak berani berinvestasi.
Banyak keluarga mengkhawatirkan masa depan, sehingga mereka memilih menabung dan melunasi utang.
Akibatnya, menjalankan bisnis di pasar menjadi lebih sulit.
Para pakar mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok telah lama menekankan produksi dan ekspor, tetapi konsumsi rumah tangga masih belum cukup.
Pada tiga kuartal pertama, ekspor tumbuh pesat, sedangkan konsumsi tumbuh lebih lambat dan investasi juga menurun.
Jika negara-negara asing mengurangi pembelian barang-barang Tiongkok, ekonomi dapat terkena dampak yang lebih besar.
Para pakar menyarankan agar pemerintah meminjam uang untuk membantu perekonomian. Pemerintah juga perlu meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperbaiki jaminan sosial, seperti layanan kesehatan dan pensiun, agar masyarakat memiliki uang dan merasa aman untuk berbelanja.
Namun, Tiongkok sudah memiliki banyak utang, sehingga bagaimana dan berapa banyak uang yang harus dibelanjakan masih menjadi masalah yang sulit.
Selain itu, beberapa analis juga meragukan apakah data ekonomi resmi sepenuhnya akurat.