duō dì多地lì fǎ立法jìn zhǐ禁止xué shēng学生dài带shǒu jī手机jìn进xiào yuán校园
Mulai September tahun ini, Kota Chongqing secara resmi menerapkan peraturan baru yang melarang siswa sekolah dasar dan menengah membawa ponsel serta produk elektronik lainnya ke lingkungan sekolah.
Selain Chongqing, banyak daerah seperti Guangdong, Fujian, dan Henan juga telah mengeluarkan undang-undang serupa.
Larangan penggunaan ponsel oleh siswa di sekolah telah berubah dari sekadar “peraturan sekolah” pada masa lalu menjadi “undang-undang dan peraturan resmi”.
Para ahli pendidikan mengatakan bahwa jika remaja menggunakan ponsel secara berlebihan, hal itu tidak hanya dapat memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan berpikir dan menyebabkan prestasi belajar memburuk.
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang tenang bagi siswa, banyak negara juga mengambil langkah yang sama.
Saat ini, lebih dari 100 negara di dunia telah membatasi atau melarang siswa menggunakan ponsel di lingkungan sekolah.
Namun, peraturan ini juga menghadapi beberapa kesulitan dalam pelaksanaannya.
Sebagian siswa memikirkan berbagai cara untuk menghindari pemeriksaan agar dapat membawa ponsel ke sekolah; beberapa sekolah bahkan menangani masalah ini dengan cara-cara ekstrem, seperti menghancurkan ponsel, sehingga memicu perbincangan di masyarakat.
Para ahli menunjukkan bahwa sekolah adalah tempat untuk mendidik manusia dan seharusnya membimbing siswa agar secara sadar menaati aturan, bukan hanya menggunakan hukuman untuk menyelesaikan masalah.
Pada saat yang sama, banyak orang tua juga mengatakan bahwa meskipun anak-anak mereka tidak bermain ponsel di sekolah, penggunaan ponsel mereka tetap sulit dikendalikan ketika mereka pulang ke rumah.
Para ahli menyarankan agar orang tua lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anak, menambah waktu untuk kegiatan luar ruangan, dan membantu anak-anak belajar mengatur waktu secara wajar.
Meletakkan ponsel bukan hanya demi meningkatkan nilai, tetapi juga demi membantu anak-anak tumbuh sehat secara fisik dan mental.