cóng从“qī piàn zhě欺骗者”dào到shù zì数字jù shòu巨兽
Filsafat tidak hanya digunakan untuk mencari jawaban, tetapi juga dapat membuat orang mempertanyakan dunia yang sudah mereka anggap biasa.
Seorang filsuf pernah membayangkan hal ini: jika ada penipu yang sangat kuat dan mampu mengendalikan indra serta pikiran kita, apa yang masih dapat kita percayai?
Ia berpendapat bahwa, meskipun segala sesuatu mungkin palsu, setidaknya “aku” yang sedang meragukan itu benar-benar ada.
Pertanyaan ini kemudian menjadi semakin penting: jika kita hanya dapat mengenal dunia melalui informasi, maka informasi dapat dipilih, diubah, dan dikendalikan.
Kini, platform digital mencatat perilaku kita, menebak kesukaan kita, lalu memutuskan apa yang akan direkomendasikan kepada kita.
Platform-platform itu tidak hanya memengaruhi apa yang kita percayai, tetapi juga mungkin perlahan memengaruhi apa yang kita inginkan.
Ketika setiap orang hanya melihat konten yang sesuai dengan minatnya sendiri, menjadi lebih sulit untuk bertemu orang yang berbeda, gagasan baru, dan kemungkinan yang tak terduga.
Bahaya yang sebenarnya bukan hanya tertipu, melainkan bahwa kita mulai merasa dunia yang ada tidak dapat diubah.
Peran filsafat justru adalah memecahkan sikap tidak peduli ini dan mengingatkan kita bahwa cara hidup yang ada di hadapan kita bukanlah satu-satunya pilihan; manusia masih dapat membayangkan dan menciptakan kehidupan bersama yang lebih setara dan terbuka.