yī一wèi位zhōng guó cháo xiǎn zú中国朝鲜族nǚ xìng女性de的gù shì故事
Nyonya Li adalah orang etnis Korea dari Yanbian, Timur Laut Tiongkok.
Saat kecil, keluarganya sangat miskin dan memiliki delapan anak.
Dia harus merawat adik laki-laki dan perempuannya sejak kecil, tidak bisa bermain seperti anak-anak lain.
Kemudian, dia mulai sekolah lebih lambat dari yang lain dan tertinggal belajar karena sakit akibat dinginnya musim dingin.
Meskipun begitu, dia belajar sangat giat dan nilainya sangat baik.
Pada tahun 1966, dia terpilih sebagai siswa berprestasi dan pergi ke Beijing untuk bertemu Ketua Mao.
Namun, setelah Revolusi Kebudayaan dimulai, semua sekolah ditutup, dan dia hanya bisa bekerja di pertanian.
Kemudian, dia menikah dan hidupnya sangat sulit; dia harus merawat keluarga dan anak-anak sendirian.
Setelah Revolusi Kebudayaan berakhir, negara mulai menghargai pendidikan lagi, tetapi dia sudah tidak punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah.
Meskipun dia sendiri tidak bisa kuliah, kedua putrinya diterima di universitas yang bagus dan menjadi guru.
Dia berharap cucu perempuannya bisa bebas mengejar impian mereka.
Kisah Nyonya Li mengajarkan kita bahwa banyak wanita kehilangan kesempatan belajar karena alasan keluarga, etnis, dan sosial, tetapi mereka tetap hidup dengan kuat.